KepedulianIslam terhadap Nasib Anak Yatim dan Kaum Dhuafa. Rab 13 Safar 1434H 26-12-2012M. 1 285. Para pembaca rahimakumullah, dengan hikmah-Nya, Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan sebagian manusia sebagai fitnah (ujian) terhadap sebagian yang lainnya. Yang miskin merupakan ujian bagi yang kaya dan sebaliknya, yang kaya adalah ujian bagi AlQur'an adalah kitab suci yang wajib diimani dan diyakini dengan keyakinan yang kuat akan kesuciannya. Berlainan dengan kitab-kitab suci sebelumnya, Al-Qur'an diturunkan Allah S.W.T kepada Nabi Muhammad s.a.w melalui perantaraan malaikat Jibril a.s itu tidak secara sekaligus, melainkan secara beransur-ansur selama 23 tahun dan terdiri daripada 114 Surah serta 30 juzuk & 6,666 ayat. Selainkegiatan amal dalam bentuk santunan yang dilaksanakan pada Kamis (28/4) sekitar pukul 18.15 WIB jelang Magrib itu, juga dibarengi dengan kegiatan buka bersama dengan para anak yatim dan kaum dhuafa dimaksud, dengan mengambil tempat di lapangan futsal, di kawasan Dusun Pang Daod, Desa Ujung Tanah. PengertianDhuafa. Untuk melakukan sedekah, memang akan sangat dianjurkan untuk bersedekah pada kaum dhuafa. Arti dhuafa itu sendiri adalah lemah, yang merujuk pada golongan strata sosial di dalam hidup di garis kemiskinan, ketidakberdayaan, kelemahan, penderitaan, dan bentuk ketidakberuntungan lainnya. Kategori dhuafa juga bisa dilihat dari Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd Hỗ Trợ Nợ Xấu. Selain mengingat Allah SWT, mensyukuri segala nikmat yang diberikan dapat juga dilakukan dengan cara yang lain. Salah satu hal yang cukup mudah dilakukan adalah dengan memelihara dan menyantuni kaum dhuafa. Bukan tanpa alasan, seperti yang kita ketahui terdapat setidaknya 2,5 persen hak dari kaum dhuafa pada seluruh harta yang kita miliki. Oleh karena itu, memberikan hak tersebut pada mereka menjadi langkah yang tepat dalam menunjukan rasa syukur kita pada Allah SWT. Terkait hal ini, dari Abu Hurairah Rasulullah Muhammad SAW bahkan pernah bersabda, “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian dan janganlah memandang kepada orang yang lebih tinggi dari kalian, sebab hal itu lebih baik agar kalian tidak menghina nikmat Allah”. HR. Bukhari & Muslim Penggalan hadist di atas sesungguhnya merupakan anjuran dari Rasulullah untuk sebaik – baiknya kita agar dapat berkaca pada wajah dan kehidupan para dhuafa. Pasalnya, dhuafa diijinkan oleh Allah untuk memiliki segala macam bentuk keterbatasan. Dengan selalu senantiasa memandang ke arah mereka hendaknya kita dapat lebih sering bersyukur. Hal tersebut juga dapat menghindari kita dari buruknya sifat kufur nikmat. Ya, bagaimana tidak? Jika kita selalu membandingkan kehidupan kita dengan mereka yang memiliki kehidupan lebih baik tentu kita tidak akan pernah dapat mensyukuri segala pemberian dari Allah SWT. Oleh karena itu, agar kita dapat selalu mengingat Allah, sangat diutamakan jika kita juga bisa mengingat dan memelihara kaum dhuafa. Back to top button Sedekah atau sodaqoh termasuk amalan yang menjanjikan pahala dan kebaikan yang besar. Saat bersedekah, kita sangat dianjurkan untuk mengutamakan orang-orang dhuafa. Pertanyaannya, apa sih pengertian dhuafa itu? Siapa saja yang termasuk dalam golongan orang dhuafa? Pengertian Dhuafa Secara bahasa, dhuafa artinya lemah. Sedangkan menurut istilah, dhuafa adalah golongan orang yang hidup dalam kemiskinan, kesengsaraan, kelemahan, ketidakberdayaan, penderitaan, dan bentuk ketidak-beruntungan lainnya. Dhuafa bisa dilihat dari kelemahan finansial, fisik, maupun psikis. Lemah yang dimaksud tentu bukan karena malas atau enggan berusaha, akan tetapi lebih karena kesulitan/keterbatasan yang menyebabkan mereka tak punya pilihan selain bergantung kepada bantuan orang lain. Siapa yang Termasuk Golongan Orang Dhuafa? Ada beberapa kaum yang termasuk dalam golongan orang dhuafa, yakni Anak Yatim Anak yatim artinya mereka yang ditinggal mati ayahnya ketika usianya belum baligh. Mereka termasuk dalam golongan karena masih membutuhkan kasih sayang, bimbingan, serta uluran tangan berupa materi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari atau sekolahnya—terlebih anak yatim yang hidup dalam kemelaratan. Janda Seorang istri yang diceraikan/ditinggal mati suaminya, sedang dirinya hidup dalam kesusahan juga bisa disebut sebagai kaum dhuafa. Mereka termasuk dalam golongan orang-orang lemah yang sudah selayaknya dibantu. Orang Miskin Seseorang dikatakan miskin apabila dirinya bekerja, tapi penghasilan yang didapat tidak bisa dipakai untuk mencukupi seluruh kebutuhan pokoknya. Dalam bahasa yang lebih bebas, “buat makan saja masih kurang”. Mereka inilah golongan kaum dhuafa yang perlu dibantu. Rasulullah bersabda yang artinya “Barang siapa yang menyisihkan harta untuk menghidupi para janda dan orang-orang miskin, maka pahalanya sama seperti berjuang di jalan Allah.” HR. Bukhari dan Muslim Orang Fakir Ya, fakir berbeda dengan miskin. Jika orang miskin masih punya kemampuan untuk bekerja dan mendapat penghasilan meski pas-pasan, fakir lebih buruk kondisinya dari itu. Mereka hidup dalam kesengsaraan yang teramat sangat. Tak punya uang untuk makan dan tak punya tenaga untuk bekerja. Budak atau Hamba Sahaya Meski barangkali hidup dalam rumah tuannya yang kaya raya, hamba sahaya budak termasuk kaum yang perlu diutamakan dalam hal pemberian sedekah. Ya, mereka mungkin mempunyai tenaga, tapi tidak punya kuasa untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Beruntung di zaman sekarang sistem perbudakan sudah dihapuskan. Mualaf Mualaf atau orang yang baru memeluk agama Islam ternyata juga masuk dalam golongan kaum dhuafa. Secara fisik dan materi, mereka mungkin terbilang mampu. Namun, iman mualaf masih lemah. Oleh karena itu kita harus membantu mereka—jika tidak dengan materi, maka bisa dengan bantuan moril. Korban Bencana Korban bencana yang kehilangan harta, rumah, serta sanak saudaranya juga termasuk golongan dhuafa yang perlu dibantu, baik berupa makanan, uang, pakaian, atau bantuan lain yang sifatnya nonfisik. Keutamaan Sedekah kepada Kaum Dhuafa Umat muslim sangat dianjurkan untuk memperbanyak sedekah. Firman Allah SWT “Perumpamaan orang-orang yang mendermakan shodaqoh harta bendanya di jalan Allah, seperti orang yang menanam sebutir biji yang menumbuhkan tujuh untai dan tiap-tiap untai terdapat seratus biji dan Allah melipat gandakan balasan kepada orang yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas anugrah-Nya lagi Maha Mengetahui.” QS. Al-Baqoroh 261 Sempurnakan ibadah dengan membantu sesama yang membutuhkan. Yuk, sedekah untuk mereka yang membutuhkan lewat aplikasi Kitabisa! Tujuh golongan yang termasuk kaum dhuafa antara lain fakir miskin, yatim, kaum difabel, lansia, janda miskin, muallaf, dan korban bencana. – Dhuafa secara bahasa artinya lemah. Lemah disini terdiri dari berbagai aspek seperti kemampuan fisik, ilmu pengetahuan, kemauan dan keyakinan, serta lemah secara finansial sehingga tidak mampu mencukupi seluruh kebutuhannya. Kemudian, secara istilah dhuafa dapat pahama sebagai sebuah kondisi yang dialami seseorang, yang mana orang tersebut berada dalam keadaan miskin, tertindas, tidak berdaya serta mengalami penderitaan. Pada umumnya, kita mengenali dhuafa sebagai orang yang lemah dari aspek ekonomi dan finansial. Golongan yang Termasuk Kaum Dhuafa Berikut adalah tujuh golongan yang termasuk kaum dhuafa ditinjau dari berbagai aspek yang menjadi penyebabnya. 1. Orang Fakir dan Miskin Fakir adalah orang yang tidak bisa mencukupi setengah dari kebutuhan pokoknya dan tanggungannya istri dan anak. Kemudian, miskin dapat dipahami sebagai orang yang hanya mampu memenuhi setengah atau lebih kebutuhan pokok dan tanggungannya, namun tidak mampu mencukupi seluruh kebutuhannya. Kondisi tersebut terjadi karena tidak memiliki pekerjaan tetap ataupun telah memiliki pekerjaan namun tidak mampu mencukupi kebutuhan pokoknya. Orang fakir dan miskin termasuk ke dalam golongan yang berhak menerima zakat dan berhak juga mendapatkan fidyah. 2. Anak Yatim Anak yatim merupakan seorang anak yang ditinggal ayahnya dalam keadaan belum baligh, yang mana pada usia tersebut mereka masih memerlukan bimbingan dan dukungan seorang ayah secara materi. Islam sangat memuliakan anak yatim dan menganjurkan kepada seluruh umatnya untuk menyantuni dan menyayanginya. Rasulullah SAW menjanjikan balasan berupa surga dan berada dekat dengannya di surga kelak bagi mereka yang ikhlas menggantikan posisi orang tuanya dan kemudian mencukupi segala kebutuhan anak tersebut. 3. Kaum difabel atau cacat fisik Kaum difabel atau orang yang mengalami cacat secara fisik biasanya mengalami berbagai kendala, mulai dari kesulitan mengakses pendidikan ataupun berpenghasilan. Terlebih jika mereka tidak mendapatkan dukungan dari keluarga atau keluarganya berada dalam kondisi ekonomi bawah. Dengan demikian, mereka yang lemah dalam aspek fisik ini termasuk ke dalam golongan dhuafa yang wajib di bantu, baik dari aspek pendidikan, life skill, ataupun bantuan sehari-harinya. 4. Orang lanjut usia Orang lanjut usia atau orang tua yang sudah renta merupakan salah satu golongan yang lemah dari aspek fisik dan psikis. Secara fisik mereka tidak mampu lagi untuk berkerja untuk mencukupi kebutuhannya sehingga ia perlu dibantu secara finansial ataupun kebutuhan lainnya. 5. Janda Miskin Janda ialah seorang perempuan yang sudah menikah lalu kemudian ia kehilangan suaminya, misalkan karena meninggal dunia. Dengan demikian, ia kehilangan orang yang menafkahinya. Perempuan yang berstatus seperti itu termasuk ke dalam golongan dhuafa yang perlu kita bantu baik dengan cara membantu kebutuhan sehari-hari, membantu dana pendidikan anaknya, ataupun bantuan dalam bentuk lainnya. 6. Muallaf Muallaf atau orang yang baru memeluk Islam juga termasuk ke dalam golongan orang dhuafa. Meskipun secara fisik dan ekonomi ia memiliki kecukupan, namun mereka bisa jadi lemah dari sisi aspek keimanan dan sosialnya. Hal itu dikarenakan seorang muallaf bisa jadi dikucilkan oleh keluarganya karena memilih pilihannya untuk masuk agama Islam. Muallaf merupakan salah satu bagian dari orang yang berhak menerima zakat dan perlu kita bantu agar keimanannya tertanam kokoh dalam dirinya. 7. Korban Bencana Korban bencana bisa masuk ke dalam kaum dhuafa, hal itu dikarenakan mereka kehilangan banyak harta benda, tempat tinggal, berbagai hal yang dimilikinya. Untuk itu, para korban bencana termasuk kaum dhuafa yang lemah secara finansial, fisik, dan juga psikis karena bencana yang menimpa diri dan keluarganya. Cara Membantu Kaum Dhuafa Berikut adalah beberapa cara memberikan bantuan kepada kaum dhuafa yang dapat kamu lakukan. 1. Menunaikan Zakat Tepat Waktu Zakat merupakan kewajiban seorang Muslim yang hendaknya ditunaikan sesuai dengan batasan haul dan nisab yang telah ditentukan. Dengan menunaikan zakat dari harta yang dimiliki, seseorang sama halnya telah membantu kaum dhuafa seperti fakir miskin dan beberapa asnaf lainnya. 2. Memberikan Bantuan Langsung Selanjunya, cara yang paling mudah untuk menolong kaum dhuafa ialah memberikan bantuan secara langsung. Bantuan tersebut bisa berupa makanan pokok, sejumlah uang tunai, perlengkapan sekolah, beasiswa pendidikan, ataupun bantuan lainnya. Dalam memberikan bantuan tersebut, kamu dapat memberikannya secara langsung kepada penerima manfaat, atau melalui lembaga sosial seperti panti yatim dan dhuafa. 3. Mengadakan Program Pelatihan/Pemberdayaan Cara membantu kaum dhuafa berikutnya ialah dengan mengadakan program pelatihan atau pemberdayaan. Hal ini bermanfaat bagi mereka agar mampu produktif dan memiliki keahlian sehingga mampu berdaya serta mandiri dalam finansial. 4. Mendonasikan Barang Pribadi yang Layak Selanjutnya, bagi kamu yang memiliki banyak barang yang masih bagus dan jarang digunakan alanglah baiknya barang tersebut didonasikan kepada orang yang membutuhkan. Mulai dari pakaian, buku bacaan, alat elektronik hingga kendaraan. Hal ini akan jauh bermanfaat dibandingkan hanya dengan menyimpannya di dalam lemari atau gudang di rumah. Oleh Muhammad Al Khaththath Rasulullah SAW menegaskan, "Bulan Ramadhan adalah bulan memberikan pertolongan" HR Ibnu Khuzaimah. Ramadhan secara etimologis artinya panas terik. Dan bulan Ramadhan, demikian orang Arab menamakan, adalah bulan yang musim gurun pasir sedang panas teriknya. Pada bulan ini, Allah SWT mewajibkan orang-orang mukmin berpuasa agar menjadi orang yang bertakwa. Pada bulan ini kaum Muslimin secara riil merasakan apa yang biasa dialami oleh kaum dhuafa, yakni lapar dan haus. Bedanya, kaum fakir miskin biasa kelaparan karena memang tidak ada yang dimakan dan diminum. Tetapi, kita sengaja berlapar-lapar sekalipun memiliki makanan yang cukup karena menjalankan perintah dan syariat Allah SWT demi menggapai pahala dan ridha-Nya. Dalam dimensi sosial, kita dilatih untuk memiliki jiwa solidaritas dan kepedulian sosial, khususnya kepada kaum dhuafa. Pernah seorang ulama salaf ditanya, mengapa disyariatkan puasa? Dia menjawab, "Supaya orang kaya bisa merasakan bagaimana rasanya lapar, agar tidak melupakan orang yang lapar." Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah beriman kepadaku diulang tiga kali, orang yang tidur kekenyangan di malam hari, padahal tetangganya dalam keadaan lapar sementara dia tahu keadaan itu." Ini adalah bulan solidaritas kaum Muslimin terhadap kaum dhuafa. Di samping merasakan lapar dan haus yang sama, kita juga disunahkan memberi makan orang yang berpuasa, khususnya fakir miskin. Tindakan ini, kata nabi, dibalas dengan tiga ganjaran, yaitu diampuni dosa-dosa, dibebaskan dari api neraka, dan diberi pahala seperti orang yang berpuasa tersebut. Tentu tak cukup makanan berbuka, kita perlu membantu kaum dhuafa dengan harta kelebihan kita untuk keperluan-keperluannya yang lain. Mereka perlu makan sahur. Mereka perlu bergembira di hari raya. Mereka ingin pula membahagiakan anak-anak mereka. Wajarlah Nabi SAW menyebut Ramadhan sebagai syahrul muwaasah, bulan memberi pertolongan. Oleh karena itu, di antara kita yang wajib zakat perlu segera memberikan zakatnya kepada mereka agar mereka bisa lebih kuat lagi dalam menapaki hidup dan bergembira menggiatkan ibadah pada bulan penuh berkah ini. Kita tentu tidak berharap bahwa mereka harus bekerja keras membanting tulang ke sana kemari tanpa hasil, penuh duka, dan putus asa, lebih-lebih bocor puasa. Kalaupun kita belum wajib zakat, perlu kita berikan sedekah kepada mereka. Dalam keterangan lain Nabi saw mengatakan, "Sebaik-baik sedekah adalah yang diberikan di bulan Ramadhan." Ya, kaum dhuafa biasanya tidak hanya minus dalam harta. Mereka umumnya minus pula dalam kesehatan, pendidikan, informasi, wawasan, dan keterampilan. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka minus dalam pengetahuan syariah agama Allah SWT. Bagaimana menolong mereka sebagai rasa solidaritas kita sesama Muslim? Perlu ide-ide kreatif demi memberikan sebagian kelebihan kita untuk mengentaskan mereka. Perlu ada kemauan bersama dan solidaritas kolektif. Perlu ada gerakan bersama, yang bisa kita awali dari bulan Ramadhan ini untuk memberikan dorongan kekuatan kepada kalangan dhuafa agar mereka bangkit memperbaiki nasibnya. Perhatian, bantuan pemikiran, dan ide-ide kreatif, bantuan tenaga, bantuan wawasan, dan bantuan finansial untuk meningkatkan SDM mereka mudah-mudahan membuat mereka bangga dan bahagia. Mungkin bisa kita mulai dari menggiatkan buka puasa bersama, shalat lima waktu bersama, tarawih bersama, tadarus bersama, yang diisi dengan perbincangan maupun hal-hal lain untuk maksud di atas. Ukhuwah dan kebersamaan yang kita tumbuhkan dalam masyarakat lingkungan kita akan menjadi modal besar bagi kaum dhuafa untuk bangkit. Mereka merasa sendiri, apalagi kecil dan lemah. Islam mengajarkan agar kita senantiasa saling mengisi satu sama lain yasuddu ba'dluhum ba'dla. Islam mengajarkan kita untuk berserikat dalam berusaha dan berjamaah dalam hidup. Di situlah kekuatan kita. Nabi Muhammad bersabda, "Allah senantiasa bakal menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya." sumber Pusat Data RepublikaBACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini

kaum dhuafa yang wajib kita santuni lebih dahulu adalah yang